Wednesday, February 13, 2008

Brain Drain...

oleh Fauzan Zidni

Isu mengenai brain drain di Indonesia tidak begitu gencar. Pasalnya kondisi perekonomian yang tidak kunjung membaik membuat banyak orang-orang dengan talent di Indonesia memilih untuk bekerja di luar negeri. Selain itu juga eksodus besar-besaran di sector industri manufaktur dan juga beberapa kebijakan pemerintah yang tidak pro terhadap dunia industri semakin membuat keadaan semakin tidak baik.

Sekedar perbandingan dengan betapa khawatirnya Negara tetangga kita Singapore terhadap fenomena brain drain, menurut berita ini Singapore kehilangan 1000 orang dengan top talent (the best and the brighter) tiap tahunnya. Bahkan Lee Kuan Yew sendiri sampai angkat bicara mengenai fenomena ini. Menariknya, tujuan eksodus orang-orang pintar ini bukanlah ke Cina yang sedang mengalami booming perekonomian. Melainkan ke AS, Eropa dan Negara-negara berkembang lainnya. Lucunya, orang-orang Singapore tidak mau berkompetisi dengan orang-orang Cina. 'You go to China, you're going to compete against 1,300 million very bright fellows, hardworking, starving. Do you stand a chance to be on top of that pole? No”.

Permasalahan kehilangan “hanya” 1000 orang pertahun bagi Singapore amat lah besar. Jika melihat pyramid penduduk Singapore, dari 30 persen orang-orang dengan penghasilan terbesar, 1000 orang ini adalah penyumbang CPF (dana pension) terbesar atau sebesar 4-5 persen. Dan tiap tahun Singapore yang investasi-investasinya dinegara lain berdasarkan CPF harus kehilangan dalam jumlah besar. MM Lee sampai berkali-kali mengulang keluhannya mengenai brain drain, ia sampai menyebutkan bahwa top talent adalah urat nadi bagi perekonomian Singapore.

Namun begitu, kehilangan 1000 orang pertahun sebenarnya bukan berita buruk bagi Singapore. Kenyataannya, mereka sedang dalam proses menambah jumlah penduduk sebanyak 1 juta jiwa hingga 2009. Persaratannya pun adalah masalah talenta. Dengan pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen, dan system politik yang stabil. Kedatangan penduduk baru dengan talenta tinggi tentunya akan menambah pundit-pundi keuangan Singapore, bukan hanya dari pajak yang masuk, tetapi juga akan menarik investasi-investasi bisnis lain di Singapore.

Permasalahannya, WNI masih tidak menjadi prioritas dan cenderung masuk black list. Bahkan untuk sector pekerjaan yang banyak dibanggakan oleh Depnaker kita, TKI/TKW dari Indonesia menjadi urutan kesekian. Pekerja dari Philippine untuk sector keperawatan dan asisten rumah tangga masih lebih dilirik meskipun bayarannya lebih mahal. Sedangkan untuk bidang kontruksi, berbeda dengan Malaysia yang banyak membangun dengan tenaga-tenaga Indonesia, Singapore lebih memilih orang-orang India. Kedua sector yang cukup banyak menyerap tenaga kerja ini tidak menjadikan orang Indonesia sebagai prioritas simply karena permasalahan bahasa.

Berbeda dengan sector pekerjaan lain, tenaga Indonesia untuk sector jasa, perbankan, manufaktur dan Industri kreatif masih dilirik karena level pendidikan yang sudah cukup memadai. Namun begitu, saya sering merasa miris, ketika melihat rombongan-rombongan pekerja kita yang berangkat ke LN. beberapa kali bertemu dengan rombongan lulusan Poltek dan STM untuk berangkat ke Korea Selatan, jumlahnya sangat banyak. Belum lagi masalah TKI kita yang diperlakukan sangat tidak manusiawi bahkan oleh petugas bandara.

Hal menarik apabila membandingkan Indonesia dan Singapore, kita jarang merasa kehilangan orang-orang dengan top talent, middle talent bahkan low talent. Hal ini bisa dianggap biasa saja. Sebagai contoh, akhir tahun kemaren, Rolls Royce membuka cabang pertama di luar inggris untuk industri pesawat terbang, memproduksi mesin pesawat. Padahal tidak ada sejarahnya Singapore pernah berinvestasi SDM di dunia pesawat terbang. Disaat yang bersamaan kasus IPTN yang dinyatakan pailit saat itu masih belum selesai. Sementara para pekerja, dimulai dari yang paling cerdas hingga tahap pelaksana masih terombang-ambing dan banyak yang akhirnya pindah ke LN. Singapore memanfaatkan peluang ini dengan merekrut orang-orang terbaik IPTN. Kalau dihitung-hitung besarnya kerugian yang kita alami, terutama mengenai investasi SDM (disekolahkan, training-training dan juga pengalaman kerja) tidak tergantikan.

Pada akhirnya, saya pun mencoba memahami, adalah perilaku manusiawi kalau orang ingin kehidupan yang lebih baik, penghasilan yang lebih tinggi dan mencari kesempatan yang lebih luas meski harus tinggal tidak di negaranya. Fenomena brain drain di masa globalisasi ini pun sebenarnya tidak dapat kita hentikan. Negara seperti Sri Langka dan Filipin adalah contoh terbaik untuk kasus Negara yang hidup dari SDM nya yang tinggal di LN. Meskipun, yang kita alami adalah berbeda. Tidak adanya lahan pekerjaan dan banyaknya orang lapar di pedesaan membuat mereka memilih untuk menjadi pembantu di negeri orang. Sulitnya mendapat pekerjaan dan gaji yang pas-pasan membuat banyak pula orang-orang bertalenta untuk pindah ke negeri orang. Tidak dihargainya ilmu pengetahuan dan riset memancing para ilmuan untuk tidak membuang kesempatan berkarya di negeri orang.

Selanjutnya seperti apa? 10-20 tahun lagi…?
Wallahua’lam…

1 comment:

Fransisca Nur'aini said...

Sebenernya jika berbicara tentang brain drain pasti akan selalu terkait dengan pembicaraan mengenai penghargaan, penghasilan atau penghidupan yang lebih baik.
karena alasan-alasan ini yang selalu menjadi justifikasi bagi orang-orang yang memiliki talenta untuk mencari pekerjaan di luar negaranya.

andai saja orang-orang yang memiliki "high-talent" mau untuk tinggal di negara mereka dengan mengesampingkan "harga" mereka,kemudian mulai membangun negara mereka dan memberdayakan mereka-mereka yang memiliki "mid/ low talent", tentu brain drain tidak akan menjadi fenomena.


karena kita tidak mungkin selamanya terus bergantung pada negara untuk memebrikan kehidupan yang lebih baik.
sudah saatnya memberikan yang terbaik dari kita untuk negara.


semoga penulis akan bisa menjadi pelopor yang menghentikan "brain drain" berkembang lebih lanjut..

amiiinn