Monday, March 3, 2008

Jakarta and Newmont head to arbitration


dari: http://www.ft.com/cms/s/0/6d3380dc-e908-11dc-8365-0000779fd2ac.html

By Reuters March 3

Indonesia will take a local unit of Newmont Mining Corp. to an international arbitration court after the firm failed to meet a Monday deadline to sell shares in a local unit which may lead to termination of its mining contract, an official at the energy and mines ministry said.

In response, Newmont said it would also file a case against the government at an arbitration court.

Under its contract of work, PT Newmont Nusa Tenggara which operates the Batu Hijau copper and gold mine in Sumbawa, eastern Indonesia, must sell 51 per cent of its shares to local investors.

It has already sold a 20 per cent stake to a local company, PT Pukuafu Indah, and has agreed to sell 31 per cent gradually by 2010, although the government had threatened to annul the firm’s contract if it did not sell the shares quickly enough.

”The energy minister, representing the Indonesian government, will sue Newmont in the international arbitration court for failing to meet the divestment obligation,” said Sutisna Prawira, the head of the legal unit at the mines and energy ministry.

Prawira said if the arbitration court ruled in favour of Indonesia’s default notice to Newmont it would be possible for the government to ask the court to terminate the firm’s mining contract.

The government had given Newmont until March 3 to wrap up the sale of 10 per cent of its shares which were offered in the past two years to local governments. The company has so far only sold 2 per cent to Sumbawa regency on Jan. 28.

Energy minister Purnomo Yusgiantoro said the government would appoint the attorney general’s office to represent Indonesia in court.

Newmont said it regretted the government’s decision to go to arbitration given progress in the divestiture process.

”This move has triggered a requirement for Newmont Nusa Tenggara and its foreign shareholders to also file arbitration to ensure all rights are preserved and to confirm that the company is not in breach of the contract,” Russell Ball, Newmont’s chief finance officer, said in an emailed statement.

Despite the arbitration filing, the company would continue the divestiture process, Ball said.

Newmont is scheduled to offer 7 per cent of its shares to local investors each year from 2008-2010.

Ball said the firm would continue talks with the government after a revelation this week that PT Bumi Resources Tbk had agreed last year with three local governments in Indonesia to buy 31 per cent of Newmont’s local unit.

Bumi, a local coal firm controlled by the family of Indonesia’s chief welfare minister Aburizal Bakrie, has since said it has no interest in the stake.

Indonesia has some of the world’s largest deposits of copper, tin, nickel and gold, and has benefited from surging commodity prices.

But analysts say lack of legal certainty and continuous disputes with Indonesia’s government have contributed to a slowdown in new investment in the country’s mining sector.

Sunday, March 2, 2008

Gugatan Kaltim Berpeluang Diterima ICSID


dari tribun kaltim

Minggu, 02-03-2008 | 23:09:01

Sidang Arbitrase Divestasi 51 Persen Saham KPC

SINGAPURA - Gugatan Pemprov Kaltim/Pemkab Kutim terhadap PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan para pihak dinilai memiliki peluang besar diterima oleh International Centre for Settlement of Investment (ICSID). Ini terlihat dari reaksi Tribunal saat hearing on jurisdiction selama dua hari, 27-28 Februari di Singapura.

Pendapat tersebut dikemukakan Fauzan Zidni, peneliti pada Center for Indonesian Regional and Urban Studies kepada wartawan Tribun Kaltim, Achmad Bintoro di Singapura. Fauzan secara mendalam mengamati proses di balik upaya Pemda Kaltim dalam berjuang mendapatkan hak pembelian 51 persen saham divestasi KPC. Ia membuat studi khusus tentang divestasi saham ini untuk tesisnya di Fisipol UI Jakarta.

Saat digelar sidang ICSID di gedung Singapore International Arbitration Centre (SIAC), Fauzan juga tampak hadir. Ia kembali melakukan studi untuk objek yang sama pada Lee Kuan Yew of Public Policy National University of Singapore. "Saya diskusi dengan teman-teman. Saya pikir peluang (Kaltim) cukup kuat. Ini terlihat dari reaksi Tribunal di sidang kemarin," kata Fauzan di Singapura, Minggu (2/3).

Selain fakta yang terungkap di persidangan, hal lain yang menguntungkan Kaltim adalah, dalam Pasal 25 ICSID Constituent dinyatakan, bahwa "constituent subdivision" dari suatu negara, oleh ICSID dianggap sebagai bagian yang sama dari negara tersebut.

Kadang-kadang justru ICSID menggunakan istilah "state" atau "government". Tapi kedua istilah itu, sambung Fauzan, dalam hukum pertanggungjawaban negara (law on state responsibility -- masih berupa draft article tetapi sudah mengikat karena sudah menjadi kebiasaan hukum internasional), departemen atau pemda dianggap sebagai "negara".

Pada sidang, baik Michael P Lennon maupun Todung Mulya Lubis, masing-masing pengacara KPC dan Rio Tinto/Beyond Petroleum, berpendapat bahwa Pemprov Kaltim tidak berhak untuk mengajukan gugatan di ICSID. Ini karena pemda bukan sebagai pihak yang meneken Perjanjian Kerjasama Pengusahaan Penambangan Batu Bara (PKP2B). PKP2B tersebut diteken pemerintah Pusat dan KPC. Sehingga kalau pun bisa maju, harus ada surat kuasa dari pemerintah pusat, Menteri Pertambangan (ESDM).

"Sejauh ini surat kuasa itu tak pernah ada," kata Lennon dari kantor firma hukum kesohor dunia, Baker Botts yang bermarkas di London, Inggris. Ini diperkuat dengan kesaksian Simon Felix Sembiring, Dirjen Geologi dan Sumberdaya Mineral yang kini menjadi Dirjen Mineral, Batu Bara dan Panas Bumi Departemen ESDM, yang membeberkan surat yang dibuatnya pada10 Agustus 2006 bahwa, pemerintah RI tidak pernah memberikan kuasa kepada Pemprov Kaltim berkaitan dengan PKP2B.

Todung juga mendesak Tribunal untuk menolak gugatan Pemprov Kaltim/Pemkab Kutim yang diajukan oleh Didi Dermawan. Terlebih, kata Todung saat sidang, gugatan Pemprov sebelumnya sudah pernah ditolak oleh PN Jakarta. Sehingga mestinya, gugatan ke ICSID pun harus ditolak karena tiadanya kewenangan dan hak.

Namun Albert Vandem Berg, anggota Tribunal yang dipilih KPC, justru mempertanyakan alasan yang dikemukakan oleh pengacara tergugat. Kepada Lennon ia balik bertanya. "Dari tadi Anda selalu mengatakan bahwa Pemprov Kaltim tidak berhak maju di ICSID, sekarang tunjukkan apa ada aturan yang tegas melarang pemda untuk maju di ICSID," tanya Albert yang kemudian oleh Lennon dijawab, tidak ada.

Lenon juga balik bertanya kepada Todung. Menurut dia, PN Jakarta wajar menolak gugatan pemda karena ia mengacu pada PKP2B. Ia merasa tidak berwenang. "Kalau di PN ditolak, lalu di ICSID pun Anda meminta agar kami menolaknya, lalu akan kemana mereka (pemprov) mencari keadilan?" katanya.

Menurut Fauzan, yang menjadi masalah justru di Kaltim sendiri. Ia melihat ketidakstabilan politikdan ketidakbersamaan elite-elite lokal maupun nasional. Ini yang malah akan membuat masalah divestasi saham KPC semakin berlarut. (bin)

Awas Teroris! (?)


sejak hari rabu kemarin (27 feb 08) singapore digegerkan dengan larinya Mas Selamat Kastari, tersangka teroris no 1 asal indonesia. paling tidak ada 3 point penting mengenai masalah ini yang bisa didiskusikan, tentang reaksi, aksi dan pandangan kedepan.

pertama, reaksi yang diberikan oleh media dan pemerintah Singapore terhadap masalah ini terlalu berlebihan. koran-koran lokal membesar-besarkan masalah ini di headline nya dengan judul-judul yang menakutkan (khas media lokal sini). selain itu juga pemerintah singapore menempel peringatan kepada warganya untuk berhati-hati dan melaporkan apabila bertemu dengan orang dengan foto diatas. pengumuman ini ditempel dimana-mana, di bis, halte, stasiun MRT, mall, dan tempat-tempat umum lainnya. lalu 3 provider hp (singtel, starhub dan m1) mengirimkan MMS berisi foto dan peringatan kepada 4 juta nomor HP di singapore. saya sendiri tidak menerimanya dikarenakan belum mengaktifkan layanan MMS.

mengapa berlebihan? the International Centre for Political Violence and Terrorism Research, singapore, menyatakan bahwa sebenarnya mas kastari tidak punya kapasitas apa-apa saat ini untuk melakukan tindakan teroris, karena mas kastari hanya seorang diri dan dengan tujuan hanya untuk survive dan melarikan diri dari singapore. selain itu, jika dibandingkan dengan teroris-teroris hukum dari indonesia alias para koruptor yang disambut dengan karpet merah dan disuguhi fasilitas lainnya tentunya amat kontras.

kedua masalah aksi, adalah suatu hal yang lucu apabila seorang teroris yang di klasifikasikan sebagai no.1 oleh pemerintah singapore bisa melarikan diri dengan begitu mudahnya. mungkin beda cerita kalau terjadi di Indonesia atau Malaysia. di Singapore yang katanya keamaanan adalah no.1 di wilayah ASEAN kejadian ini tentunya amat memalukan. terlebih, mas kastari melarikan diri dari tempat yang disebutkan sebagai Singapore Guantanamo's. aksi mas kastari saya sendiri mengacungkan jempol! mantap!

lalu apa dampaknya dari aksi mas kastari ini? selain ketakutan yang "mencekam" lewat pemerintah dan PR2nya kepada masyarakat singapore, tentunya imigrasi Indonesia yang menjadi berabe terkait masalah ini. apalagi di isukan bahwa kastari ingin sekali kabur ke Indonesia, mengingat istrinya adalah orang malang. dan dia pernah mengajukan menjadi WNI.

sementara itu dari Tim Pembela Muslim menyebutkn bahwa sebaiknya pemerintah Indonesia tidak kebakaran jenggot mengenai masalah ini, mengingat opini tentang terorisme yang dilakukan JI belum tentu benar. selain itu pula, ada indikasi bahwa Mas Kastari sengaja dilepas lalu memudahkan untuk dibidik seperti yang terjadi pada faturrachman al gazi.

ketiga, akankah hal ini kemudian akan berdampak kepada perjanjian kerja sama pertahanan yang sempat di drop oleh Lee Kuan Yew karena isu ekstradisi. mengingat Indonesia sendiri mengajukan syarat ekstradisi koruptor2 yang ada di singapore agar DCA bisa dilaksanakan. di sisi lain Singapore tentunya tidak bisa sendiri untuk menghadapi ancaman2 yang ada, bukan hanya terorisme tetapi juga masalah2 strategis lainnya, sperti selat malaka dan kerja sama militer.

wallahualam...

Saturday, March 1, 2008

Indonesiaku..

Beberapa hari yang lalu saya kebetulan mendapat tugas untuk berkunjung ke Meulaboh selama3 hari. kebetulan mata kuliah yang saya ambil me"wajib"kan saya untuk melakukan sedikit peninjauan (dalam hal ini tidak bisa disebut penelitian karena sempitnya waktu yang diberikan kepada saya).

Perjalanan ini mungkin tidak berbeda dengan perjalanan para pegawai yang mendapat tugas kantor, karena perjalanan ini telah ditentukan sedemikian rupa oleh universitas.

mungkin saya bisa dikatakan cukup terlambat mengunjungi Aceh (malu juga), tapi.. lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. saya bersyukur, walaupun terlambat, masih berkesempatan mengunjungi Serambi Mekah ini.

Walaupun hanya 3 hari, tetapi subhanAllah, pelajaran yang saya terima begitu banyak, mungkin seumur hidup saya belum tentu punya kesempatan untuk pergi karena saya bukan tipe orang yang suka bepergian. Sejak kecil, dunia yang saya tahu hanyalah daerah rumah, sekolah, kampus dan tempat kost, rumah nenek d jawa timur mungkin itu tempat terjauh (sebelum saya kuliah disini).

Untuk mencapai Meulaboh,saya harus transit terlebih dahulu di Medan, karena tidak ada pesawat yang langsung menuju Meulaboh dari Sin, tapi itulah awal pelajaran yang saya peroleh.

Saya terbang menggunakan Susi Air (pesawat kecil dengan kapasitas 12 orang) yang terbang cukup rendah sehingga saya bisa dengan jelas melihat Indonesia (Pulau Sumatra) dari ketinggian sekitar 3000 kaki, ketika melewati bukit barisan, mungkin itulah salah satu pemandangan yang paling menakjubkan yang pernah saya lihat. tapi... ketika barisan bukit berbukit itu tak tampak lagi, saya melihat ada beberapa titik yang menimbulkan asap. Tidak banyak memang, tapi cukup membuat iba karena hutan tropis Indonesia yang begitu kaya flora dan fauna berubah menjadi kepulan asap putih yang menimbulkan polusi udara.

Indonesiaku...

Begitu indah, tetapi sepertinya kita tidak pernah atau mungkin kita terlalu terbiasa dengan kekayaan sumber daya alam hayati n non-hayati yang kita miliki sehingga kita melupakan "harta" kita. pernahkah kita mensyukuri nikmat yang diberikan olehNya? tidakkah cukup teguran dariNya (gempa, longsor, banjir, kebakaran hutan, Tsunami, dll) untuk menyadarkan kita? sudah saatnya kita menyayangi negeri ini, negeri yang dimana kita lahir dan dibesarkan di sana, negeri yang dari kekayaan alamnya kita bisa menikmati hidup ini.


Well, kembali ke perjalanan saya yang penuh hikmah tadi. sesampainya di Meulaboh, saya dijemput oleh salah satu Non Government Organization (NGO) asing (NGO ini dikepalai oleh seorang Irlandia dengan 4 orang stafnya berasal dari Medan) yang membantu proses rekonstruksi Aceh, terutama di Meulaboh.

hari itu juga, saya mengunjungi sebuah pesantren yang kondisinya setelah Tsunami hanya tinggal puing2, kini puing2 itu telah berubah menjadi bangunan yang apik berhiaskan taman kecil, tetapi pembangunan ini belum selesai karena baru pesantren putri yang selesai dibangun sedangkan bagian putra dan gedung sekolah masih dalam proses.

hal ini dikarenakan minimnya dana serta sebgaian besar NGO2 yang ada di Meulaboh terlalu sibuk "berkompetisi" dalam pembangunan rumah rakyat dan melupakan nasib anak2. bahkan ada beberapa NGO asing yang terang2an menolak untuk mendanai pembangunan dengan alasan pesantren adalah sekolah Islam, mereka tidak ingin membantu pendidikan Islam.

hmm...saya jadi berpikir, apakah salah jika anak2 ini kehilangan tempat tinggal dan sekolahnya? apakah salah mereka jika mereka menganut agama Islam? kenapa NGO2 yang notabene datang untuk bantuan "kemanusiaan" begitu sempit pikirannya dan mengesampingkan kebutuhan anak-anak ini hanya karena perbedaan agama?

tapi, alhamdulillah, masih ada orang2 seperti mereka yang ada di NGO ini yang sudi untuk membantu rakyat Meulaboh, tanpa melihat "label" keagamaan.

hal yang menarik dari pesantren ini adalah rasa kebersamaan yang mereka miliki, saat kami memberikan sekotak kue kepada mereka, maka mereka membaginya menjadi 130 bagian untuk memastikan bahwa setiap anak akan mendapatkan bagiannya.

wow, menurut saya, ini benar-benar kemanusiaan yang sesungguhnya.
saat kita tidak hanya memperdulikan diri sendiri,
saat kita rela berbagi dengan yang lain
saat kita memastikan bahwa setiap individu lain memiliki apa yang kita miliki

hari selanjutnya saya pergi ke dua kabupaten, ACeh Barat dan Nagan Raya, mengunjungi beberapa desa di sana, lebih tepatnya melihat pembangunan rumah untuk masyarakat yang umumnya adalah nelayan.

seperti yang telah saya katakan, sebagian besar NGO fokus pada pembangunan rumah (ini dikarenakan hampir semua bangunan di Meulaboh rusak total, yang masih berdiri tegak adalah masjid dan beberapa rumah yang letaknya cukup jauh dari pesisir).

keinginan NGO/pemerintah untuk membantu memang sangat tinggi, hal ini terlihat dari banyaknya jumlah rumah yang dibangun kembali, tetapi......

dampak buruknya adalah, mereka seolah2 saling berkompetisi, dalam membangun rumah yang paling bagus.

hm...apakah ini ajang kontes kecantikan???

dampak buruk lainnya, ini membuat warga menjadi "oportunis", mereka tidak lagi bersyukur karena diberikan rumah, tetapi mereka menjadi "pilih-pilih" dalam menunjuk NGO yang akan membangun rumah bagi mereka.

Indonesiaku..

akan kemanakah negeri ini? akankah negeriku dipenuhi oleh orang2 oportunis?? kita memang tidak bisa menyalahkan mereka sepenuhnya karena perubahan sikap mereka, ada campur tangan pihak lain di dalamnya

tapi..
kisahku belum selesai

perjalanan selanjutnya adalah sebuah panti asuhan di pusat kota Meulaboh, di sana saya sempat berbincang2 dengan beberapa anak usia 12-16 tahun, mereka semua adalah korban Tsunami yang kehilangan salah satu atau kedua orang tua mereka saat bencana itu datang.

menakjubkan apa yang bisa bencana ini perbuat, hampir semua anak yang saya ajak berbicara, mereka memiliki keinginan yang kuat untuk menjadi guru, untuk alasan yang sangat mulia, mereka bilang, mereka ingin mewujudkan rasa syukur mereka karena mereka tidak hanya ditampung tetapi juga disekolahkan oleh yayasan tersebut (NGO lokal). jadi mereka berkeinginan untuk melakukan hal yang sama di masa depan, membagi ilmu yang mereka miliki.

hm..mungkin tidak banyak orang dewasa yang akan berfikir seperti itu

hari selanjutnya saya pergi ke rumah sakit daerah, satu2nya rumah sakit yang ada di kota Meulaboh ini. mungkin jika kita tinggal di kota2 lain, beberapa rumah sakit tersedia untuk melayani kebutuhan kesehatan masyarakat sekitar, tapi berbeda dengan di Meulaboh, RSU ini satu2nya dan tidak terlalu besar.

pelajaran penting yang saya dapat dari kunjungan saya adalah meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan (setelah Tsunami), mereka jadi lebih kritis terhadap pelayanan yang mereka terima, dan rupanya ini juga berdampak bagi pihak pengurus RSU. tuntutan masyarakat mau tidak mau merubah kualitas pelayanan RSU,mereka jadi lebih berperan aktif dalam memberikan pelayanan prima. hal ini tentu tak lepas dari peran UGM beserta NGO asing yang memberikan pelatihan mengenai manajemen RS kepada para staf.


perjalanan terkahir saya adalah di daerah pinggiran kota Medan, di sana saya mengunjungi Rumah Anak Madani (wisma penampungan anak2 korban Tsunami). wisma ini memang diperuntukkan bagi anak2 korban Tsunami yang berprestasi, karena mereka akan disekolahkan sejak SD hingga S1 (jika berhasil lulus SPMB). pihak yayasan sangat selektif dalam memilih sekolah anak2 ini, dan mereka tidak hanya dibekali ilmu dari sekolah, para pengurus juga memberikan pelajaran tambahan berupa ilmu agama dan bahasa Inggris, bahkan saat saya di sana adalah "English Week", dimana percakapan hanya diperbolehkan dalam bahasa Inggris.

hmm..
anak2 ini ternyata cukup bersemangat cas cis cus dengan bahasa bule. jadi terharu dan bangga, melihat semangat mereka untuk tetap berkarya dan tidak berputus asa setelah kejadian yang mungkin bagi kita bisa menimbulkan trauma yang mendalam. tapi mereka sangat antusias. pengurus yang rata-rata masih muda ini menitikberatkan pendidikan agama dan bahasa (arab dan inggris).


Indonesiaku,,

perjalananku yang hanya tiga hari benar-benar memberikan kesan yang mendalam,
memang benar Indonesiaku sangat kaya, dan kita terbiasa dengan pikiran kita bahwa kita sangat kaya, sehingga kita lupa untuk memanfaatkan kekayaan kita dengan sebaik-baiknya. kita merelakan kekayaan kita diserap oleh negara lain. sudah saatnya kita bangkit dan mulai dengan tangan kita sendiri, belajar mensyukuri nikmat yang telah dianugerahkanNYA untuk bangsa kita.


Indonesiaku,,


aq optimis bahwa suatu saat nanti Indonesiaku akan bangkit dan menjadi bangsa yang dihormati, bangsa yang memilik harga diri, bangsa yang menghargai dirinya sendiri. setelah apa yang kulihat, apa yang telah dilakukan NGO2 lokal ini terhadap saudara2 mereka, sungguh kepedulian yang sangat jarang kita dapati dimasa sekarang ini.

sudah saatnya kita belajar dari saudara2 kita juga belajar dari anak2 itu, adik2 yang penuh kebersamaan, adik2 yang penuh kerelaan dan rasa syukur (yang sedikit sekali kita memilikinya, termasuk saya), adik2 yang penuh semangat membangun masa depannya.

jika adik-adik kita saja bersemangat penuh, kenapa kita tidak?

sepantasnya kita merasa sangat malu terhadap mereka, kita dengan segala kelebihan masih sering terbuai dan enggan bahkan bermalas2an membangun negeri ini

Indonesiaku,,
semoga engkau bangkit layaknya adik2ku yang bangkit dari keterpurukan bencana Tsunami di Aceh.

amiin..

Friday, February 29, 2008

Ibu Pertiwi....

“Ditempat seperti ini kita belajar untuk tidak pernah meminta maaf kepada hidup”

Saya teringat kata-kata ibu guru di sekolah dahulu. Bahwa Indonesia kita subur dan makmur, kaya raya makanya disebut zambrut katulistiwa. Saya teringat juga dongeng ibu guru di sekolah dahulu. Bahwa apa saja bisa tumbuh di tanah kita. Belanda datang dulu untuk rempah-rempah, karena kita kaya. MNC datang untuk emas dan minyak kita sekarang, karena kita kaya..

Katanya…iya, itu cuma katanya…

“Tempat ini terlalu sempit untuk diisi penyesalan”

Kemaren seorang ibu hamil mati karena kelaparan di makassar. Tanah yang katanya berwarna hitam dan dibilang lebih subur dari jawa. Di Nusa Tenggara 10 Kabupaten mengalami kekeringan dan gagal panen. 20 ribu hektar tanaman padi dan jagung gagal tanam. 9 ribu hektar lainnya rusak oleh hama. Sementara pak menko kesra sedang merencanakan pembatalan kontrak Newmont Nusa Tenggara, hingga dia bisa memilikinya. Nusa Tenggara itu kaya, emasnya, logam-logamnya. Dan masih banyak cerita lainnya…

“tempat ini terlalu basah untuk ditambah air mata”

Saya pernah bilang, saya bangga jadi orang indonesia. Lalu temanku berkata dengan sinis “saya tidak peduli”. Dia cuma bilang, hanya ada satu pelabelan,“tempat ini terlalu basah untuk ditambah air mata”, dan dia tidak biacara apapun lagi sesudahnya...

Lalu kemudian, saya bermonolog, apa yang kau banggakan dari Indonesia? Apa karena kau pernah lahir dan besar disana? Dan makin lama pun kau makin sadari bahwa negara mu tidak bisa dibanggakan. Benar kata taufik ismail 10 tahun lalu, yang suatu hari pernah sangat bangga atas Indonesia. Lalu kini harus menutupi muka, karena dia malu jadi orang Indonesia.

Ibu, aku ingin merubah Indonesia

saya bangga jadi orang indonesia....

jumat 29 february adalah kali ketiga saya mendatangi pagelaran seni indonesia di Singapore. cerita kolosal mengenai gajah mada yang diadakan oleh teman2 dari SMUKI. sebelumnya saya pernah menonton cerita prambanan yang diselenggarakan teman2 NUS dan rama shinta oleh republic politeknik.

sebelumnya di Indonesia, hampir tidak pernah (sekuat ingatan saya) mendatangi acara-acara seperti ini. entah mungkin karena dari SD-SMU saya berada di sekolah yg homogen, dan di UI sendiri hampir tidak ada (terutama di FISIP) pagelaran seni dan budaya tradisional Indonesia.

"saya bangga jadi orang Indonesia" itu jadi statement of the month bulan february... bahwa kita begitu kaya akan seni dan budaya. bahwa kita memiliki sejarah panjang dan begitu banyak cerita. sehingga kita tidak perlu mengaku-ngaku "truly asia" karena budaya kita memang tidak mencakup seluruh asia... atau mengatakan "uniquely indonesia..." karena tanpa disebutkan pula, kita sudah unik...

Tribunal Tunda Keputusan Yurisdiksi

Jumat, 29-02-2008 |Tribun Kaltim
TRIBUN - Hari kedua atau hari terakhir sidang arbitrase InternationalCentre for Settlement of Invesment Disputes (ICSID) di Singapura, Kamis(28/2), Tribunal (Majelis Arbitrase) belum bisa langsung memutuskanapakah gugatan Pemprov Kaltim/Pemkab Kutim ditolak atau diterima.

Wartawan Tribun Kaltim, Achmad Bintoro dari Singapura melaporkan, Tribunal yang
terdiri ketua, Prof Dr Gabriel Kaufhman dari Swiss, Michael Hwang
(Singapura), dan Albert Vandem Berg (Belgia) lebih dulu bakal mengkaji
keterangan dan dokumen-dokumen yang mereka peroleh dari hasil hearing
on jurisdiction.

Keterangan itu meliputi semua informasi dan tanya jawab yang terjadi sejak sidang
hari pertama hingga hari terakhir, kemarin. Hari pertama sempat
dihadirkan saksi Simon F Sembiring, mantan Dirjen Geologi dan
Sumberdaya Mineral Departemen ESDM, dan dua surat yang dikeluarkannya.
Surat tertanggal Maret 2004 dan 10 Agustus 2006 itu dijadikan bagian
dari data pendukung oleh Michael P Lennon, pengacara KPC, untuk meminta
Tribunal menolak gugatan arbitrase yang diajukan Didi Dermawan,
pengacara Pemprov Kaltim.

Sedangkan dua saksi lain yang diharapkan hadir, Sekjen Departemen ESDM Waryono
Karno dan Ketua DPRD Kaltim Herlan Agussalim, tidak terlihat. Tidak
pula diungkap di dalam persidangan mengenai surat-surat yang ditulis
keduanya. Lennon maupun Didi tidak lagi mengungkitnya. Begitu pula
Todung Mulya Lubis maupun Mattew Weiniger, pengacara Rio Tinto/Beyond
Peroleum.

Gabriel, sesaat sebelum mengakhiri sidang, memberi kesempatan kepada semua pihak
yang berperkara untuk mengajukan cost submission secara tertulis paling
lambat 10 April 2008. Tribunal akan memberikan jawaban tertulis pada 24
April.

Diperkirakan, keputusan Tribunal terkait yurisdiksi baru akan dikeluarkan sekitar
bulan Mei mendatang. Rentang waktu dua bulan ke depan akan digunakan
Tribunal untuk mengkaji dokumen-dokumen yang begitu banyak.
Dokumen-dokumen yang jika dikumpul mencapai satu lemari itu diajukan
oleh para pihak yang berperkara.

Selama persidangan hari kedua digelar kemarin, Tribun tidak bisa lagi
menyaksikan langsung jalannya sidang. Lennon, sesaat setelah sidang
dibuka oleh Gabriel, pukul 10.00, mengajukan keberatan kepada Tribunal
atas adanya laporan hasil sidang hari pertama di Tribun Kaltim
tertanggal 28 Februari. Ia sempat membagikan kliping laporan berita
Tribun itu kepada Tribunal dan para pengacara.

"Saya tidak menyangka nama saya ternyata cukup dikenal di Kalimantan Timur,"
ujar pengacara kesohor dari firma hukum Baker Botts, Inggris itu
bercanda sambil meminta Tribunal mengusir jika ada wartawan penulis
berita itu di di dalam ruang sidang. Gabriel menyetujui dan meminta
pihak ICSID serta petugas Singapore International Arbitration Center
(SIAC) untuk mengecek ada tidaknya wartawan dimaksud.

"Namanya Achmad (Bintoro)," kata Gabriel. Tribun lalu keluar lebih dulu dari
ruang sidang. Sejumlah informasi yang berhasil dikumpulkan menyebutkan,
suasana sidang kemarin berjalan tertib. Puluhan warga Kaltim yang
mendukung upaya arbitrase masih tekun mengikuti proses sidang hingga
berakhir petang hari. Sebagian dari mereka juga tetap berpakaian adat
suku-suku daerah seperti Dayak, Jawa, Bugis, dan Kutai. Termasuk Putra
Mahkota Sultan Kutai Kartanegara, Arifin Praboe, yang datang dengan
pakaian lengkap kesultanan warna putih.

Menurut anggota Tim Penyelesaian Divestasi Saham (TPDS) Iswan Priady, pada hari
kedua sidang kemarin, Todung kembali menekankan bahwa Pemprov Kaltim
tidak memiliki hak untuk berperkara di ICSID. Todung antara lain lain
mendasarkan klaimnya pada putusan Pengadilan Negeri (PN) Jakarta yang
menolak gugatan Pemprov Kaltim pada sekitar lima tahun lalu. Terlebih,
masih menyitir pernyataan Todung, meski pemda memiliki kewenangan lebih
besar setelah UU Otda diberlakukan, namun tidak terhadap lima bidang
yakni keamanan/hankam, keuangan/fiskal, hukum, agama, dan kebijakan
luar negeri.

"Putusan PN Jakarta itu mestinya menjadi bukti atau acuan bahwa mestinya gugatan
ke ICSID pun tidak boleh diterima," kata Iswan menirukan ucapan Todung.
Iswan bersama TPDS KPC (Laden Mering, Abraham Ingan, Amir P Alie dan
Sarosa Hamongpranoto) hadir dalam sidang ini. Juga Wakil Bupati Kutim
Israan Noor, dan sejumlah tokoh adat, pemuda dan masyarakat Kaltim.

Tapi Albert Vandem Berg, anggota Tribunal yang dipilih KPC, justru
mempertanyakan balik. Kalau di PN ditolak, di ICSID juga diminta
ditolak, lalu Pemprov Kaltim harus mencari keadilan dimana? Menurut
arbitrator keturunan Belanda itu, PN Jakarta wajar menolak karena
mengacu PKP2B sehingga merasa tidak berwenang untuk mengadili. Todung
sendiri enggan berkomentar ketika Tribun melakukan konfirmasi di sela
rehat sidang, kemarin.

No Comment!

Todung Mulya Lubis enggan berkomentar. Sejumlah pertanyaan yang Tribun ajukan
tidak dijawabnya. Ia hanya mengeluarkan sepotong kalimat: No comment!.
Masyarakat melihat selama ini, dia adalah sosok pembela HAM. Ia tampil
menonjol dalam banyak kasus yang terkait dengan pembelaan masyarakat
kecil.

Namun masyarakat Kaltim, terlebih puluhan masyarakat yang dua hari terakhir
mengikuti jalannya sidang arbitrase di Singapura, menjadi bingung saat
melihat sosok dia. Mereka melihat Todung duduk paling depan bersama
sekitar 20 pengacara kesohor dunia lainnya. Ia menjadi pembela
perusahaan besar tambang dunia, Rio Tinto dan Beyond Petroleum, yang
bersama KPC menghadapi gugatan masyarakat dan Pemprov Kaltim/Pemkab
Kutim terkait divestasi 51 persen saham KPC.

Berulangkali Tribun mendengar geraman tertahan sejumlah tokoh masyarakat Kaltim saat
melihat langsung Todung tampil bersemangat membela KPC. Geraman yang
sama saat mereka melihat Simon F Sembiring, seorang Drjen di Departemen
ESDM, yang dalam pandangan mereka terkesan kuat membela KPC, tanpa mau
melirik kepentingan masyarakat Kaltim

"Sebenarnya kita tidak masalah Todung membela konglomerat asalkan bersengketa
dengan konglomerat lain. Sangat disesalkan dan memalukan ia membela
kepentingan konglomerat melawan kepentingan rakyat. Kita jadi meragukan
nasionalisme Todung yang selama ini dikenal sebagai pembela HAM. Kenapa
sih Todung mencari nafah dengan cara seperti itu," kata Iswan.
Pandangan senada juga diungkapkan Laden Mering, Abraham Ingan, Yulianus
Henock, dan Bambang Budi.

Lantas, apa tanggapan Todung. "Ah, no comment. Saya tak mau komentari itu,"
kata Todung dengan tertawa saat dicegat Tribun sebelum memasuki gedung
SIAC di Prime Court, Singapura.

Tuntut Keadilan

Wakil Bupati Kutim Isran Noor menjadi tokoh penting dibalik "sukses"
kelanjutan perjuangan Kaltim dalam menggugat KPC di arbitrase ICSID.
Tanpa respons cepat dan kepedulian dia, barangkali gugatan itu sudah
kandas di tengah jalan, jauh sebelum perang dimulai.

Saat Pemprov dan DPRD Kaltim menyatakan tidak bisa membiayai, tiba-tiba
harapan dan upaya keras yang telah dibangun selama ini untuk mencari
keadilan terkait divestasi saham, menjadi suram. Betapa tidak.
Pernyataan itu dikeluarkan justru di saat hari-hari terakhir jelang
batas waktu penyampain deposit kepada ICSID.

Isran yang saat mendengar itu masih di Hongkong, segera memutuskan pulang
lebih cepat. Ia tak mau perjuangan arbitrase itu kandas di tengah jalan
hanya karena biaya. Ia meyakini ICSID melihat adanya peluang lebih
besar ketika memutuskan bahwa gugatan itu bisa diproses. ICSID sendiri
memerlukan waktu satu tahun untuk mempelajari semua dokumen yang
diajukan Didi. Maka, Isran pun menjadi "penyelamat" sehingga gugatan
arbitrase bisa berjalan.

"Saya tidak berorientasi menang kalah, meski saya meyakini peluang kita lebih
besar di ICSID. Saya hanya mengembang amanah UU. Aturan terkait
divestasi itu sudah jelas kok ada di PKP2B. Saya bersama komponen
masyarakat lain dan pengacara kita, Didi, itu mencoba mencari
keadilan," kata Isran kepada Tribun di sela sidang, kemarin.

Ketua TPDS KPC Laden Mering didampingi Abraham Ingan juga menyatakan hal yang
sama. Aturan divestasi sudah jelas. Namun mereka tampak sekali enggan
melepaskan dominasinya terhadap kepemilikan saham KPC. "Mereka lupa
bahwa kekayaan yang mereka dapat adalah dari hasil mengeruk kekayaan
bumi Kaltim, khususnya Kutim. Jika mereka terus seperti itu, jangan
salahkan bila rakyat menjadi marah," tambah Ingan.(bin)