Monday, March 10, 2008

Malaysia, meraba hari esok tak pasti...

Selain mengejutkan pada pemilu legislatif, partai oposisi menang di Penang dan Selangor -dua negara bagian di Malaysia yang paling maju proses industrialisasinya-, pemerintah lokal ibukota Kuala Lumpur, serta dua negara bagian yang kaya akan pertanian, Kedah dan Perak.



apa yang menarik dari sini?

pertama, dari sisi ekonomi akan terjadi perubahan besar-besaran bukan hanya di tingkat negara bagian tapi juga Malaysia secara keseluruhan. Argumen ini didasari oleh:
  • indeks bursa saham Malaysia yang jatuh 9,5 persen akibat reaksi pasar yang khawatir akan masa depan politik di Malaysia. ini juga menjadi rekor turun terbesar selama lebih dari 10 tahun terakhir. Selama ini Malaysia menjadi tujuan investasi asing dikarenakan kestabilan politik yang ada lewat pemerintahan Barisan Nasional.
  • kemungkinan kerugian yang dialami oleh BUMN Malaysia sudah terlihat lewat dua perusahaan besar Malaysia, Sime Darby, bergerak di perkebunan dan energy dan UEM World, BUMN kontruksi terbesar. dua BUMN ini sudah mengalami kerugian yang sangat besar akibat kemenangan partai oposisi di beberapa negara bagian.
  • dampak di tingkat lokal terhadap keberlangsungan proyek2 peninggalan pemerintah masa lalu terasa sangat misalnya di Penang, yang berencana mereview kembali rencana pembangunan senilai 8 miliar dollar. belum lagi disisi politik yg akan saya bahas selanjutnya.
kedua, beberapa perubahan politik akan sangat terasa di daerah yang dikuasai oleh partai oposisi. PAS misalnya akan sangat tegas terhadap penegakan syariat islam yang sudah lama menguasai Kelantan (menguasai 41 dari 45 kursi DPRD), skarang juga menguasai Kedah. sedangkan koalisi partai oposisi menurut berita ini akan merubah secara cepat cara2 lama yang dilakukan oleh Barisan Nasional di Selangor, Penang dan Perak. khusus di Selangor, pemerintah baru akan menghilangkan OSA (Official Secrets Act) dan akan mengimplementasikan Freedom of Information Act (FOIA). uniknya, perubahan2 yang digagas oleh partai oposisi tidak berdasarkan politik ras yang selama ini kental membalut politik di Malaysia. lihat saja, PAS, DPA dan PKR sama sekali tidak berdasarkan ras.



ketiga, berdasarkan isu-isu yang digunakan partai oposisi pada kampanye2nya. kemungkinan perubahan yang mereka janjikan tentunya akan berfokus kepada:
  • inflasi, terutama di daerah urban. hal ini juga ditambah parah dengan adanya income gap, Malaysia merupakan salah satu negara dengan income gap terbesar di ASEAN.
  • politik ras dan diskriminasi terutama kepada etnis india dan china. masalahnya NEP yang berfokus kepada bumiputera pun pada akhirnya tidak menjawab permasalahan distribusi pendapatan dikalangan bumi putera.
  • lambatnya pemberantasan korupsi di Malaysia.
  • meningkatnya angka kriminalitas sebagai dampak dari income gap dan ketidak efisiensian polisi Malaysia yang tercatat sebagai lembaga paling korup di Malaysia (sama kasus dengan Indonesia)
empat isu ini kemudian dijadikan alasan mengapa Barisan Nasional ditinggalkan begitu saja oleh para pemilih. namun begitu, ada hal yang membedakan 'kebangkrutan' suara Golkar 9 tahun lalu di Indonesia dengan BN yaitu masih banyak pula orang yang berfikir bahwa seburuk apapun BN, mereka masih satu2nya pihak yang mampu menjalankan pemerintahan dengan SDM dan pengalaman yang ada. pilihan rasional inilah yang menyelamatkan BN dari 'kebangkrutan' sperti yang dialami Golkar pada saat itu.

dari sisi ekonomi, politik dan isu yang mereka tawarkan pada pemilu lalu, Anwar Ibrahim, PKR, PAS dan DAP paling tidak harus membuktikan diri selama 5 tahun kedepan. berkaca pada kegagalan PAS pada pemilu 2004 yang harus kehilangan Trengganu akibat tidak majunya perekonomian daerah tersebut. kubu oposisi harus membuktikan bahwa mereka bisa melakukan sesuatu yang lebih baik dari BN, bukan hanya lips service sebagai kubu oposisi di daerah yang mereka kuasai. dan itu satu2nya cara untuk memukul BN pada pemilu berikutnya.

Malaysia, meraba hari esok tak pasti...

hey, Malaysia, welcome to the club...



Malaysia tidak akan sama lagi....! dan saya cuma mau bilang "hey, welcome to the club...!" dimana politik akan menjadi semakin ribet, ruwet dan pembangunan mungkin akan semakin sulit untuk dilakukan. well, tapi untuk negara dengan mulit ras, mungkin ini lah jalan terbaik...

untuk pertama kalinya dalam 50 tahun sejarah kemerdekaan Malaysia, koalisi Barisan Nasional tidak mampu mempertahankan posisi mayoritas 2/3 kursi di parlemen. meskipun masih tetap menguasai 63 persen suara di parlemen turun dari 91 persen hasil pemilu 2004, tetapi oposisi yang dipimpin Anwar Ibrahim lewat Partai Keadilan, PAS dan DCA (yang masing-masing memiliki basis masa berbeda) mengkuadrup kan dari hanya 20 kursi menjadi 80 kursi...

Barisan Nasional sebenarnya sudah melakukan sebuah transformasi yang luar biasa pada perekonomian Malaysia. namun begitu, masalah klise tentang teori kekuasaan selalu muncul, Power tend to corrupt, Absolute power corrupt absolutely. paling tidak ada tiga masalah besar yang dihadapi koalisi BN yang menyebabkan mereka kalah.

pertama, masalah politik rasial yang selama ini diakomodir oleh partai berdasarkan ras (dalam koalisi BN, UMNO-MCA-MIC) ternyata tidak mampu lagi diantisipasi. khususnya bagi ras India yang beberapa bulan yang lalu mengadakan demonstrasi besar-besaran terkait isu diskriminasi. kejadian ini mengingatkan peristiwa kerusuhan rasial pada 13 Mei 1969. badawi yang segera "menyingkirkan" para demonstran dan menangkap para pimpinannya dengan UU darurat ternyata harus dibayar mahal oleh merosotnya suara BN pada pemilu kali ini. bahkan pimpinan MIC yang selama 3 dekade menjadi anggota parlemen dan menteri harus kehilangan kursinya oleh seorang anak muda putri Anwar Ibrahim.

kedua, keberhasilan pembangunan ekonomi lewat proyek2 mercusuar yang dimulai oleh Mahatir Muhammad dan di lanjutkan lewat proyek2 yang lebih populis oleh Badawi ternyata hanya dinikmati segelintir orang. F1, kasino, mall2 mewah dan berbagai proyek lainnya tidak mampu mendistribusikan kekayaan kepada rakyat banyak.bahkan untuk kalangan bumiputera yang diuntungkan lewat program NEP. indikator lainnya adalah ketidakmampuan pemerintah dalam mengendalikan harga dan meningkatnya harga minyak secara drastis. tentunya isu ekonomi ini mampu dijadikan isu besar oleh para oposisi untuk memperlemah posisi BN.

ketiga, ketidak mampuan BN dalam membasmi penyakit KKN yang mendarah daging dalam tubuh pemerintah Malaysia. hal yang wajar bila dilihat dari absolutnya kekuasaan mereka dan tanpa oposisi yang kuat.

tiga hal ini kemudian dijadikan isu bagi oposisi bahwa Malaysia butuh untuk berubah, dan Malaysia tidak akan sama lagi. lihat reaksi berlebih dari Mahatir, bahwa Badawi harus mengundurkan diri dan bertanggung jawab atas "kekalahan" ini, ia sendiri menyesali telah memilih Badawi sebagai penggantinya.

hey, welcome to the club Malaysia...
selamat menikmati dinamika yang akan membuat politik semakin ribet dan rumit...
seperti yang kami alami di Indonesia... :)

Monday, March 3, 2008

arbiterase lagi, tapi berbeda...



pemerintah pusat melalui menteri ESDM disini dan disini, menyatakan telah melayangkan gugatan terhadap Newmont Nusa Tenggara ke Arbiterase Internasional terkait kewajiban divestasi saham perusahaan tersebut.

Purnomo Yusgiantoro sendiri berharap pengadilan arbiterase akan dilakukan di Jakarta. ia menambahkan pemerintah pusat sudah siap dan matang untuk melanjutkan proses ini. menariknya, pihak Newmont Nusa Tenggara, 1 jam sesudahnya juga ikut mengajukan gugatan.

arbiterase lagi... tapi mengapa saya melihatnya sebagai sesuatu yang berbeda dari sidang arbiterase pemprov kaltim vs KPC, Rio Tinto dan BP? ada beberapa point yang bisa menjadi dasar bahwa arbiterase ini sarat kepentingan segelintir elit nasional saja. dimulai dari posisi dan keterlibatan aburizal bakrie, statement2 dari ESDM hingga bagaimana reaksi Newmont sendiri atas masalah ini.

argumen pertama saya akan dengan cepat menunjuk Aburizal Bakrie, Menko Kesra sekaligus bos dari bakrie group yang memiliki Bumi Resources, pemilik KPC saat ini. posisi BR menurut berita ini bersedia memberikan pembiayaan kepada pemerintah daerah disekitar tambang Batu Hijau untuk membeli divestasi saham Newmont Nusa Tenggara dan kemudian menguasainya. Bumi sendiri telah menanda tangani perjanjian dengan provinsi Nusa Tenggara Barat, kabupaten Sumbawa, dan kabupaten Sumbawa Barat pada maret dan agustus tahun lalu untuk tidak hanya membeli 10 persen kewajiban divestasi (untuk tahun 2008) tetapi juga 21 persen lainnya yang harus didivestasi hingga 2010. dalam MOU tersebut, BR akan mendapatkan 85% bagian dari total saham yang dibeli oleh pemda dengan pendanaan dari BR. sebagai gantinya, BR akan membayar 1 juta dollar tiap tahunnya kepada pemda. angka yang tidak masuk akal sebenarnya, dengan harga 3% saja saham newmont yang sebesar 3 Trilyun rupiah.

kedua, kehadiran BR dalam proses ini, tentunya bila kita berkaca pada kasus KPC (bisa dilihat di tulisan lain di milis ini) akan sangat kontradiktif apabila melihat sikap Departemen ESDM. aksi "heroik" Purnomo Yusgiantoro dan juga Simon Sembiring dalam negosiasi dengan pihak Newmont yang begitu keras dan alot, hingga akhirnya begitu cepat membawa kasus ini ke arbiterase internasional (dengan statement, kami sudah siap dan matang). bahkan sebelumnya, purnomo bahkan berani mengancam akan memutus kontrak Newmont apabila menolak mendivestasikan saham sebelum tanggal 3 Maret 2008. sementara yang terjadi pada kasus KPC, pemerintah pusat tidak pada posisi yang berpihak kepada pemerintah daerah. atau mungkin bila melihat kasus yang masih baru di blok cepu, ketika pertamina sudah siap untuk mengelolanya namun ESDM lebih memilih Exxonmobil untuk mengelola blok cepu.

ketiga, menghadapi kenyataan ini, Newmont sendiri seperti kalap dan berusaha menempuh segala cara untuk menghindari jatuh ke tangan BR. pada awalnya sebelum BR terlibat dalam negosiasi dengan pemda, Newmont memang bersikap sangat keras, saya sendiri beberapa kali berdiskusi dengan teman2 yang terkait masalah ini, betapa kerasnya newmont untuk menghindari kewajiban divestasi. hingga pada akhirnya, BR tertarik untuk membiayai pemda untuk membeli saham divestasi. permasalahan bagi newmont, dengan kehadiran BR yang memiliki backing kuat di pemerintah membuat newmont mati kutu.

beberapa media terutama financial times beberapa kali memuat masalah ini, dengan Indonesia sebagai pihak yang sangat buruk dalam menangani investasi asing. saya tidak sepakat dengan argumen itu. ada kontrak2 yang mereka telah sepakati di awal perihal divestasi. dan itu hukumnya mutlak. namun yang memperihatinkan adalah shifting kepemilikan dari MNC ke pihak indonesia, sepertinya hanya akan dikuasai beberapa pihak saja, yang telah tercatat dalam ingatan kita sama saja. perubahan kepemilikan tidak lantas membuat kita lepas dari "penjajahan".

mulai dari divestasi freeport pada awal 90 an yang melibatkan orang yang sama, Aburizal bakrie, KPC, dan sekarang newmont nusa tenggara...

Pak ical, pak purnomo, apa lagi sih yang anda cari?


berita terkait:
http://www.ft.com/cms/s/0/5250f638-e88a-11dc-913a-0000779fd2ac.html
http://www.ft.com/cms/s/0/9b62afde-e631-11dc-8398-0000779fd2ac.html
http://www.ft.com/cms/s/0/6d3380dc-e908-11dc-8365-0000779fd2ac.html

Jakarta and Newmont head to arbitration


dari: http://www.ft.com/cms/s/0/6d3380dc-e908-11dc-8365-0000779fd2ac.html

By Reuters March 3

Indonesia will take a local unit of Newmont Mining Corp. to an international arbitration court after the firm failed to meet a Monday deadline to sell shares in a local unit which may lead to termination of its mining contract, an official at the energy and mines ministry said.

In response, Newmont said it would also file a case against the government at an arbitration court.

Under its contract of work, PT Newmont Nusa Tenggara which operates the Batu Hijau copper and gold mine in Sumbawa, eastern Indonesia, must sell 51 per cent of its shares to local investors.

It has already sold a 20 per cent stake to a local company, PT Pukuafu Indah, and has agreed to sell 31 per cent gradually by 2010, although the government had threatened to annul the firm’s contract if it did not sell the shares quickly enough.

”The energy minister, representing the Indonesian government, will sue Newmont in the international arbitration court for failing to meet the divestment obligation,” said Sutisna Prawira, the head of the legal unit at the mines and energy ministry.

Prawira said if the arbitration court ruled in favour of Indonesia’s default notice to Newmont it would be possible for the government to ask the court to terminate the firm’s mining contract.

The government had given Newmont until March 3 to wrap up the sale of 10 per cent of its shares which were offered in the past two years to local governments. The company has so far only sold 2 per cent to Sumbawa regency on Jan. 28.

Energy minister Purnomo Yusgiantoro said the government would appoint the attorney general’s office to represent Indonesia in court.

Newmont said it regretted the government’s decision to go to arbitration given progress in the divestiture process.

”This move has triggered a requirement for Newmont Nusa Tenggara and its foreign shareholders to also file arbitration to ensure all rights are preserved and to confirm that the company is not in breach of the contract,” Russell Ball, Newmont’s chief finance officer, said in an emailed statement.

Despite the arbitration filing, the company would continue the divestiture process, Ball said.

Newmont is scheduled to offer 7 per cent of its shares to local investors each year from 2008-2010.

Ball said the firm would continue talks with the government after a revelation this week that PT Bumi Resources Tbk had agreed last year with three local governments in Indonesia to buy 31 per cent of Newmont’s local unit.

Bumi, a local coal firm controlled by the family of Indonesia’s chief welfare minister Aburizal Bakrie, has since said it has no interest in the stake.

Indonesia has some of the world’s largest deposits of copper, tin, nickel and gold, and has benefited from surging commodity prices.

But analysts say lack of legal certainty and continuous disputes with Indonesia’s government have contributed to a slowdown in new investment in the country’s mining sector.

Sunday, March 2, 2008

Gugatan Kaltim Berpeluang Diterima ICSID


dari tribun kaltim

Minggu, 02-03-2008 | 23:09:01

Sidang Arbitrase Divestasi 51 Persen Saham KPC

SINGAPURA - Gugatan Pemprov Kaltim/Pemkab Kutim terhadap PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan para pihak dinilai memiliki peluang besar diterima oleh International Centre for Settlement of Investment (ICSID). Ini terlihat dari reaksi Tribunal saat hearing on jurisdiction selama dua hari, 27-28 Februari di Singapura.

Pendapat tersebut dikemukakan Fauzan Zidni, peneliti pada Center for Indonesian Regional and Urban Studies kepada wartawan Tribun Kaltim, Achmad Bintoro di Singapura. Fauzan secara mendalam mengamati proses di balik upaya Pemda Kaltim dalam berjuang mendapatkan hak pembelian 51 persen saham divestasi KPC. Ia membuat studi khusus tentang divestasi saham ini untuk tesisnya di Fisipol UI Jakarta.

Saat digelar sidang ICSID di gedung Singapore International Arbitration Centre (SIAC), Fauzan juga tampak hadir. Ia kembali melakukan studi untuk objek yang sama pada Lee Kuan Yew of Public Policy National University of Singapore. "Saya diskusi dengan teman-teman. Saya pikir peluang (Kaltim) cukup kuat. Ini terlihat dari reaksi Tribunal di sidang kemarin," kata Fauzan di Singapura, Minggu (2/3).

Selain fakta yang terungkap di persidangan, hal lain yang menguntungkan Kaltim adalah, dalam Pasal 25 ICSID Constituent dinyatakan, bahwa "constituent subdivision" dari suatu negara, oleh ICSID dianggap sebagai bagian yang sama dari negara tersebut.

Kadang-kadang justru ICSID menggunakan istilah "state" atau "government". Tapi kedua istilah itu, sambung Fauzan, dalam hukum pertanggungjawaban negara (law on state responsibility -- masih berupa draft article tetapi sudah mengikat karena sudah menjadi kebiasaan hukum internasional), departemen atau pemda dianggap sebagai "negara".

Pada sidang, baik Michael P Lennon maupun Todung Mulya Lubis, masing-masing pengacara KPC dan Rio Tinto/Beyond Petroleum, berpendapat bahwa Pemprov Kaltim tidak berhak untuk mengajukan gugatan di ICSID. Ini karena pemda bukan sebagai pihak yang meneken Perjanjian Kerjasama Pengusahaan Penambangan Batu Bara (PKP2B). PKP2B tersebut diteken pemerintah Pusat dan KPC. Sehingga kalau pun bisa maju, harus ada surat kuasa dari pemerintah pusat, Menteri Pertambangan (ESDM).

"Sejauh ini surat kuasa itu tak pernah ada," kata Lennon dari kantor firma hukum kesohor dunia, Baker Botts yang bermarkas di London, Inggris. Ini diperkuat dengan kesaksian Simon Felix Sembiring, Dirjen Geologi dan Sumberdaya Mineral yang kini menjadi Dirjen Mineral, Batu Bara dan Panas Bumi Departemen ESDM, yang membeberkan surat yang dibuatnya pada10 Agustus 2006 bahwa, pemerintah RI tidak pernah memberikan kuasa kepada Pemprov Kaltim berkaitan dengan PKP2B.

Todung juga mendesak Tribunal untuk menolak gugatan Pemprov Kaltim/Pemkab Kutim yang diajukan oleh Didi Dermawan. Terlebih, kata Todung saat sidang, gugatan Pemprov sebelumnya sudah pernah ditolak oleh PN Jakarta. Sehingga mestinya, gugatan ke ICSID pun harus ditolak karena tiadanya kewenangan dan hak.

Namun Albert Vandem Berg, anggota Tribunal yang dipilih KPC, justru mempertanyakan alasan yang dikemukakan oleh pengacara tergugat. Kepada Lennon ia balik bertanya. "Dari tadi Anda selalu mengatakan bahwa Pemprov Kaltim tidak berhak maju di ICSID, sekarang tunjukkan apa ada aturan yang tegas melarang pemda untuk maju di ICSID," tanya Albert yang kemudian oleh Lennon dijawab, tidak ada.

Lenon juga balik bertanya kepada Todung. Menurut dia, PN Jakarta wajar menolak gugatan pemda karena ia mengacu pada PKP2B. Ia merasa tidak berwenang. "Kalau di PN ditolak, lalu di ICSID pun Anda meminta agar kami menolaknya, lalu akan kemana mereka (pemprov) mencari keadilan?" katanya.

Menurut Fauzan, yang menjadi masalah justru di Kaltim sendiri. Ia melihat ketidakstabilan politikdan ketidakbersamaan elite-elite lokal maupun nasional. Ini yang malah akan membuat masalah divestasi saham KPC semakin berlarut. (bin)

Awas Teroris! (?)


sejak hari rabu kemarin (27 feb 08) singapore digegerkan dengan larinya Mas Selamat Kastari, tersangka teroris no 1 asal indonesia. paling tidak ada 3 point penting mengenai masalah ini yang bisa didiskusikan, tentang reaksi, aksi dan pandangan kedepan.

pertama, reaksi yang diberikan oleh media dan pemerintah Singapore terhadap masalah ini terlalu berlebihan. koran-koran lokal membesar-besarkan masalah ini di headline nya dengan judul-judul yang menakutkan (khas media lokal sini). selain itu juga pemerintah singapore menempel peringatan kepada warganya untuk berhati-hati dan melaporkan apabila bertemu dengan orang dengan foto diatas. pengumuman ini ditempel dimana-mana, di bis, halte, stasiun MRT, mall, dan tempat-tempat umum lainnya. lalu 3 provider hp (singtel, starhub dan m1) mengirimkan MMS berisi foto dan peringatan kepada 4 juta nomor HP di singapore. saya sendiri tidak menerimanya dikarenakan belum mengaktifkan layanan MMS.

mengapa berlebihan? the International Centre for Political Violence and Terrorism Research, singapore, menyatakan bahwa sebenarnya mas kastari tidak punya kapasitas apa-apa saat ini untuk melakukan tindakan teroris, karena mas kastari hanya seorang diri dan dengan tujuan hanya untuk survive dan melarikan diri dari singapore. selain itu, jika dibandingkan dengan teroris-teroris hukum dari indonesia alias para koruptor yang disambut dengan karpet merah dan disuguhi fasilitas lainnya tentunya amat kontras.

kedua masalah aksi, adalah suatu hal yang lucu apabila seorang teroris yang di klasifikasikan sebagai no.1 oleh pemerintah singapore bisa melarikan diri dengan begitu mudahnya. mungkin beda cerita kalau terjadi di Indonesia atau Malaysia. di Singapore yang katanya keamaanan adalah no.1 di wilayah ASEAN kejadian ini tentunya amat memalukan. terlebih, mas kastari melarikan diri dari tempat yang disebutkan sebagai Singapore Guantanamo's. aksi mas kastari saya sendiri mengacungkan jempol! mantap!

lalu apa dampaknya dari aksi mas kastari ini? selain ketakutan yang "mencekam" lewat pemerintah dan PR2nya kepada masyarakat singapore, tentunya imigrasi Indonesia yang menjadi berabe terkait masalah ini. apalagi di isukan bahwa kastari ingin sekali kabur ke Indonesia, mengingat istrinya adalah orang malang. dan dia pernah mengajukan menjadi WNI.

sementara itu dari Tim Pembela Muslim menyebutkn bahwa sebaiknya pemerintah Indonesia tidak kebakaran jenggot mengenai masalah ini, mengingat opini tentang terorisme yang dilakukan JI belum tentu benar. selain itu pula, ada indikasi bahwa Mas Kastari sengaja dilepas lalu memudahkan untuk dibidik seperti yang terjadi pada faturrachman al gazi.

ketiga, akankah hal ini kemudian akan berdampak kepada perjanjian kerja sama pertahanan yang sempat di drop oleh Lee Kuan Yew karena isu ekstradisi. mengingat Indonesia sendiri mengajukan syarat ekstradisi koruptor2 yang ada di singapore agar DCA bisa dilaksanakan. di sisi lain Singapore tentunya tidak bisa sendiri untuk menghadapi ancaman2 yang ada, bukan hanya terorisme tetapi juga masalah2 strategis lainnya, sperti selat malaka dan kerja sama militer.

wallahualam...

Saturday, March 1, 2008

Indonesiaku..

Beberapa hari yang lalu saya kebetulan mendapat tugas untuk berkunjung ke Meulaboh selama3 hari. kebetulan mata kuliah yang saya ambil me"wajib"kan saya untuk melakukan sedikit peninjauan (dalam hal ini tidak bisa disebut penelitian karena sempitnya waktu yang diberikan kepada saya).

Perjalanan ini mungkin tidak berbeda dengan perjalanan para pegawai yang mendapat tugas kantor, karena perjalanan ini telah ditentukan sedemikian rupa oleh universitas.

mungkin saya bisa dikatakan cukup terlambat mengunjungi Aceh (malu juga), tapi.. lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. saya bersyukur, walaupun terlambat, masih berkesempatan mengunjungi Serambi Mekah ini.

Walaupun hanya 3 hari, tetapi subhanAllah, pelajaran yang saya terima begitu banyak, mungkin seumur hidup saya belum tentu punya kesempatan untuk pergi karena saya bukan tipe orang yang suka bepergian. Sejak kecil, dunia yang saya tahu hanyalah daerah rumah, sekolah, kampus dan tempat kost, rumah nenek d jawa timur mungkin itu tempat terjauh (sebelum saya kuliah disini).

Untuk mencapai Meulaboh,saya harus transit terlebih dahulu di Medan, karena tidak ada pesawat yang langsung menuju Meulaboh dari Sin, tapi itulah awal pelajaran yang saya peroleh.

Saya terbang menggunakan Susi Air (pesawat kecil dengan kapasitas 12 orang) yang terbang cukup rendah sehingga saya bisa dengan jelas melihat Indonesia (Pulau Sumatra) dari ketinggian sekitar 3000 kaki, ketika melewati bukit barisan, mungkin itulah salah satu pemandangan yang paling menakjubkan yang pernah saya lihat. tapi... ketika barisan bukit berbukit itu tak tampak lagi, saya melihat ada beberapa titik yang menimbulkan asap. Tidak banyak memang, tapi cukup membuat iba karena hutan tropis Indonesia yang begitu kaya flora dan fauna berubah menjadi kepulan asap putih yang menimbulkan polusi udara.

Indonesiaku...

Begitu indah, tetapi sepertinya kita tidak pernah atau mungkin kita terlalu terbiasa dengan kekayaan sumber daya alam hayati n non-hayati yang kita miliki sehingga kita melupakan "harta" kita. pernahkah kita mensyukuri nikmat yang diberikan olehNya? tidakkah cukup teguran dariNya (gempa, longsor, banjir, kebakaran hutan, Tsunami, dll) untuk menyadarkan kita? sudah saatnya kita menyayangi negeri ini, negeri yang dimana kita lahir dan dibesarkan di sana, negeri yang dari kekayaan alamnya kita bisa menikmati hidup ini.


Well, kembali ke perjalanan saya yang penuh hikmah tadi. sesampainya di Meulaboh, saya dijemput oleh salah satu Non Government Organization (NGO) asing (NGO ini dikepalai oleh seorang Irlandia dengan 4 orang stafnya berasal dari Medan) yang membantu proses rekonstruksi Aceh, terutama di Meulaboh.

hari itu juga, saya mengunjungi sebuah pesantren yang kondisinya setelah Tsunami hanya tinggal puing2, kini puing2 itu telah berubah menjadi bangunan yang apik berhiaskan taman kecil, tetapi pembangunan ini belum selesai karena baru pesantren putri yang selesai dibangun sedangkan bagian putra dan gedung sekolah masih dalam proses.

hal ini dikarenakan minimnya dana serta sebgaian besar NGO2 yang ada di Meulaboh terlalu sibuk "berkompetisi" dalam pembangunan rumah rakyat dan melupakan nasib anak2. bahkan ada beberapa NGO asing yang terang2an menolak untuk mendanai pembangunan dengan alasan pesantren adalah sekolah Islam, mereka tidak ingin membantu pendidikan Islam.

hmm...saya jadi berpikir, apakah salah jika anak2 ini kehilangan tempat tinggal dan sekolahnya? apakah salah mereka jika mereka menganut agama Islam? kenapa NGO2 yang notabene datang untuk bantuan "kemanusiaan" begitu sempit pikirannya dan mengesampingkan kebutuhan anak-anak ini hanya karena perbedaan agama?

tapi, alhamdulillah, masih ada orang2 seperti mereka yang ada di NGO ini yang sudi untuk membantu rakyat Meulaboh, tanpa melihat "label" keagamaan.

hal yang menarik dari pesantren ini adalah rasa kebersamaan yang mereka miliki, saat kami memberikan sekotak kue kepada mereka, maka mereka membaginya menjadi 130 bagian untuk memastikan bahwa setiap anak akan mendapatkan bagiannya.

wow, menurut saya, ini benar-benar kemanusiaan yang sesungguhnya.
saat kita tidak hanya memperdulikan diri sendiri,
saat kita rela berbagi dengan yang lain
saat kita memastikan bahwa setiap individu lain memiliki apa yang kita miliki

hari selanjutnya saya pergi ke dua kabupaten, ACeh Barat dan Nagan Raya, mengunjungi beberapa desa di sana, lebih tepatnya melihat pembangunan rumah untuk masyarakat yang umumnya adalah nelayan.

seperti yang telah saya katakan, sebagian besar NGO fokus pada pembangunan rumah (ini dikarenakan hampir semua bangunan di Meulaboh rusak total, yang masih berdiri tegak adalah masjid dan beberapa rumah yang letaknya cukup jauh dari pesisir).

keinginan NGO/pemerintah untuk membantu memang sangat tinggi, hal ini terlihat dari banyaknya jumlah rumah yang dibangun kembali, tetapi......

dampak buruknya adalah, mereka seolah2 saling berkompetisi, dalam membangun rumah yang paling bagus.

hm...apakah ini ajang kontes kecantikan???

dampak buruk lainnya, ini membuat warga menjadi "oportunis", mereka tidak lagi bersyukur karena diberikan rumah, tetapi mereka menjadi "pilih-pilih" dalam menunjuk NGO yang akan membangun rumah bagi mereka.

Indonesiaku..

akan kemanakah negeri ini? akankah negeriku dipenuhi oleh orang2 oportunis?? kita memang tidak bisa menyalahkan mereka sepenuhnya karena perubahan sikap mereka, ada campur tangan pihak lain di dalamnya

tapi..
kisahku belum selesai

perjalanan selanjutnya adalah sebuah panti asuhan di pusat kota Meulaboh, di sana saya sempat berbincang2 dengan beberapa anak usia 12-16 tahun, mereka semua adalah korban Tsunami yang kehilangan salah satu atau kedua orang tua mereka saat bencana itu datang.

menakjubkan apa yang bisa bencana ini perbuat, hampir semua anak yang saya ajak berbicara, mereka memiliki keinginan yang kuat untuk menjadi guru, untuk alasan yang sangat mulia, mereka bilang, mereka ingin mewujudkan rasa syukur mereka karena mereka tidak hanya ditampung tetapi juga disekolahkan oleh yayasan tersebut (NGO lokal). jadi mereka berkeinginan untuk melakukan hal yang sama di masa depan, membagi ilmu yang mereka miliki.

hm..mungkin tidak banyak orang dewasa yang akan berfikir seperti itu

hari selanjutnya saya pergi ke rumah sakit daerah, satu2nya rumah sakit yang ada di kota Meulaboh ini. mungkin jika kita tinggal di kota2 lain, beberapa rumah sakit tersedia untuk melayani kebutuhan kesehatan masyarakat sekitar, tapi berbeda dengan di Meulaboh, RSU ini satu2nya dan tidak terlalu besar.

pelajaran penting yang saya dapat dari kunjungan saya adalah meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan (setelah Tsunami), mereka jadi lebih kritis terhadap pelayanan yang mereka terima, dan rupanya ini juga berdampak bagi pihak pengurus RSU. tuntutan masyarakat mau tidak mau merubah kualitas pelayanan RSU,mereka jadi lebih berperan aktif dalam memberikan pelayanan prima. hal ini tentu tak lepas dari peran UGM beserta NGO asing yang memberikan pelatihan mengenai manajemen RS kepada para staf.


perjalanan terkahir saya adalah di daerah pinggiran kota Medan, di sana saya mengunjungi Rumah Anak Madani (wisma penampungan anak2 korban Tsunami). wisma ini memang diperuntukkan bagi anak2 korban Tsunami yang berprestasi, karena mereka akan disekolahkan sejak SD hingga S1 (jika berhasil lulus SPMB). pihak yayasan sangat selektif dalam memilih sekolah anak2 ini, dan mereka tidak hanya dibekali ilmu dari sekolah, para pengurus juga memberikan pelajaran tambahan berupa ilmu agama dan bahasa Inggris, bahkan saat saya di sana adalah "English Week", dimana percakapan hanya diperbolehkan dalam bahasa Inggris.

hmm..
anak2 ini ternyata cukup bersemangat cas cis cus dengan bahasa bule. jadi terharu dan bangga, melihat semangat mereka untuk tetap berkarya dan tidak berputus asa setelah kejadian yang mungkin bagi kita bisa menimbulkan trauma yang mendalam. tapi mereka sangat antusias. pengurus yang rata-rata masih muda ini menitikberatkan pendidikan agama dan bahasa (arab dan inggris).


Indonesiaku,,

perjalananku yang hanya tiga hari benar-benar memberikan kesan yang mendalam,
memang benar Indonesiaku sangat kaya, dan kita terbiasa dengan pikiran kita bahwa kita sangat kaya, sehingga kita lupa untuk memanfaatkan kekayaan kita dengan sebaik-baiknya. kita merelakan kekayaan kita diserap oleh negara lain. sudah saatnya kita bangkit dan mulai dengan tangan kita sendiri, belajar mensyukuri nikmat yang telah dianugerahkanNYA untuk bangsa kita.


Indonesiaku,,


aq optimis bahwa suatu saat nanti Indonesiaku akan bangkit dan menjadi bangsa yang dihormati, bangsa yang memilik harga diri, bangsa yang menghargai dirinya sendiri. setelah apa yang kulihat, apa yang telah dilakukan NGO2 lokal ini terhadap saudara2 mereka, sungguh kepedulian yang sangat jarang kita dapati dimasa sekarang ini.

sudah saatnya kita belajar dari saudara2 kita juga belajar dari anak2 itu, adik2 yang penuh kebersamaan, adik2 yang penuh kerelaan dan rasa syukur (yang sedikit sekali kita memilikinya, termasuk saya), adik2 yang penuh semangat membangun masa depannya.

jika adik-adik kita saja bersemangat penuh, kenapa kita tidak?

sepantasnya kita merasa sangat malu terhadap mereka, kita dengan segala kelebihan masih sering terbuai dan enggan bahkan bermalas2an membangun negeri ini

Indonesiaku,,
semoga engkau bangkit layaknya adik2ku yang bangkit dari keterpurukan bencana Tsunami di Aceh.

amiin..